Harga emas dan logam mulia diprediksi masih bergerak melandai dan cenderung naik pada pekan mendatang. Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan harga emas akan berada di kisaran Rp 2,55–2,82 juta per gram.
Secara teknikal, Ibrahim memprediksi harga emas dunia pada minggu depan berada di sekitar 4.151 dolar AS per troy ons sebagai level support hingga 4.493 dolar AS per troy ons sebagai level resisten. Untuk hari Senin, kemungkinan besar level support berada di 4.279 dolar AS per troy ons, dengan level resisten di 4.405 dolar AS per troy ons.
Logam mulia ditutup pada level Rp 2,69 juta per gram pada hari Sabtu, kata Ibrahim kepada wartawan. Dalam sepekan ke depan, kemungkinan besar logam mulia akan ditransaksikan di Rp 2,55 juta per gram sebagai support, dengan resisten di Rp 2,82 juta per gram. Pada hari Senin, level support diprediksi di Rp 2,67 juta per gram, dan level resisten di Rp 2,71 juta per gram.
Ibrahim menyebut ada kemungkinan harga emas akan menguat, meski penguatan rupiah akan membuat kenaikan harga logam mulia sedikit terbatas. Sementara itu, harga minyak mentah dunia diproyeksikan dalam sepekan ke depan akan cenderung menurun, berada di kisaran 65,70 dolar AS per barel sebagai level support hingga 83,30 dolar AS per barel. Posisi indeks dolar AS diprediksi bergerak di sekitar 98,80–100,50.
Naik turunnya harga emas dipengaruhi beberapa faktor, antara lain ketegangan geopolitik. Ibrahim menyebut kesepakatan yang kemungkinan akan segera tercapai antara Iran dan Oman mengenai pengendalian Selat Hormuz, serta serangan Iran terhadap kapal-kapal Uni Emirat Arab di wilayah tersebut. Kondisi geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan Rusia terhadap Kyiv dengan menggunakan misil-misil jarak jauh, juga menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan komoditas dunia.
Faktor lainnya adalah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS. Data tenaga kerja AS mengalami penurunan 23 ribu pada Juli 2026, lebih rendah dibandingkan ekspektasi 85 ribu, kata Ibrahim. Data tersebut mengindikasikan Bank Sentral AS pada pertemuan mendatang akan tetap mempertahankan kenaikan suku bunga. Sesuai ekspektasi analis bahwa kenaikan suku bunga mengalami penurunan 40 persen pada September, harga minyak bisa terus turun di bawah 60 dolar AS per barel, dan akan membuat inflasi di AS mengalami penurunan.
Ada harapan bahwa penurunan harga minyak akan membuat investor secara global mengalihkan dananya dari dolar dan minyak mentah ke emas sebagai safe haven, menurut Ibrahim.


