Penelitian terhadap 383 wisatawan Indonesia mengungkapkan bahwa pengalaman wisata yang berkesan tidak lahir dari infrastruktur mewah seperti hotel bintang lima atau resort berkelas, melainkan dari faktor yang bersifat personal dan emosional. Temuan ini menunjukkan bahwa destinasi dengan fasilitas sederhana namun memiliki kearifan lokal dan keramahan warga yang khas justru meninggalkan kesan lebih mendalam pada wisatawan dibanding situs dengan pembangunan modern yang megah.
Penelitian mengidentifikasi empat atribut utama yang menentukan memorable tourism experience, atau pengalaman wisata yang tak terlupakan. Keempat faktor tersebut bekerja melalui jalur yang sama: membangkitkan emosi positif terutama kebahagiaan, yang kemudian menjadi kenangan berkesan. Pertama adalah keterikatan, yakni kemampuan destinasi membuat wisatawan merasa terhubung dengan budaya setempat dan menganggap daerah itu penuh tempat menarik untuk dijelajahi. Kedua adalah kualitas pelayanan yang tulus, yang dinilai dari keramahan dan ketulusan staf, bukan dari kemewahan fasilitas.
Faktor ketiga adalah paparan budaya lokal yang autentik dan aksesibel, memungkinkan wisatawan terlibat langsung dengan kehidupan masyarakat setempat. Faktor keempat adalah ragam aktivitas dan acara spesial seperti festival yang melibatkan wisatawan sebagai peserta aktif, bukan sekadar penonton. Semakin berbeda pengalaman dari keseharian wisatawan, semakin kuat kenangan yang terbentuk, menurut penelitian ini.
Temuan penelitian berimplikasi pada promosi digital. Wisatawan dengan kenangan berkesan lebih terdorong merekomendasikan destinasi secara daring melalui ulasan Google Maps, konten TikTok, dan unggahan Instagram. Jenis konten ini jauh lebih dipercaya calon wisatawan lain dibanding promosi resmi dari pengelola destinasi.
Penelitian menyarankan pemerintah daerah dan operator situs wisata memfokuskan kembali perencanaan pengembangan pariwisata mereka. Banyak faktor penentu kesan mendalam tidak memerlukan pengeluaran dana publik besar, asalkan keamanan publik dan kejujuran pelaku usaha terpenuhi sebagai prasyarat dasar. Setelah itu, identitas budaya autentik, masyarakat yang hangat, dan ekosistem kegiatan yang hidup akan membedakan sebuah destinasi dari pesaingnya.



