Hujan meteor Perseid akan mencapai puncaknya dini hari Kamis (13 Agustus) ketika Bumi melewati puing-puing dari Komet 109P/Swift-Tuttle. Pada kondisi ideal, pengamat dapat menyaksikan rata-rata sekitar 1-2 meteor per menit, menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Waktu terbaik untuk mengamati fenomena ini adalah dini hari 13 Agustus, bersamaan dengan fase Bulan Baru ketika langit malam lebih gelap dan kondisi pengamatan lebih optimal. Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN Thomas Djamaluddin mengatakan bahwa "setiap tahun, Bumi berpapasan dengan sisa debu komet sehingga terjadi fenomena hujan meteor yang memiliki arah dan waktu kemunculan yang tetap setiap tahun."
Hujan meteor mulai terlihat sekitar pukul 00.30 WIB ketika titik radiannya terbit di atas ufuk timur, dan akan berlangsung hingga fajar sekitar pukul 05.36 WIB. Titik radian akan mencapai titik tertingginya di langit setelah fajar sekitar pukul 06.00 WIB, sehingga pemandangan terbaik diperkirakan terjadi sesaat sebelum fajar ketika titik radiannya berada di posisi paling tinggi.
Pada waktu tersebut, rotasi Bumi membuat wilayah Jakarta menghadap ke arah datangnya meteor secara optimal, memaksimalkan jumlah meteor yang jatuh secara vertikal. Pada waktu lainnya, meteor yang muncul akan memasuki atmosfer dengan sudut miring, menghasilkan lintasan cahaya yang lebih panjang dan melintasi area langit yang lebih luas sebelum terbakar habis.
Puncak aktivitas hujan meteor ini diperkirakan terjadi pada 13 Agustus sekitar pukul 09.00 WIB, menurut BRIN.



