Puluhan ribu penonton memadati Sounds of Downtown Festival di Surabaya Expo Center pada 1 Agustus 2026. Di tengah empat panggung yang memainkan musik pop, indie, dan rock alternatif, berdiri sebuah musala putih berlabel "Musholla As-Sodiyah" lengkap dengan tempat wudu bertanda dwibahasa. Beberapa penonton keluar dari kerumunan konser untuk berwudu dan salat, kemudian kembali menikmati pertunjukan.
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara generasi muda Muslim urban menjalani keberagamaan mereka. Konsep "lived religion" dari sosiolog Amerika Meredith McGuire menjelaskan bagaimana praktik keagamaan tidak selalu mengikuti bentuk rapi yang digambarkan doktrin resmi, melainkan dijalani sesuai ritme kehidupan sehari-hari. Garis pemisah antara yang sakral dan profan merupakan konstruksi sosial yang terus dilanggar dan digambar ulang oleh para pelaku agama itu sendiri.
Riset PPIM UIN Jakarta melalui program CONVEY Indonesia menunjukkan gerakan hijrah semakin populer di kalangan generasi muda. Penelitian yang menganalisis wawancara dengan anggota lima komunitas hijrah serta ribuan konten media sosial menemukan bahwa keberagamaan anak muda tidak selalu hadir dalam bentuk kaku atau terpisah dari kehidupan modern. Bagi sebagian dari mereka, menjadi lebih religius tidak berarti meninggalkan seluruh bentuk hiburan atau budaya populer.
Keberadaan musala di festival dapat dipandang dari dua sisi sekaligus: respons terhadap kebutuhan penonton untuk tetap beribadah, dan akomodasi industri terhadap karakter konsumennya. Penyelenggara mungkin memiliki kepentingan bisnis, sementara kebutuhan beribadah penonton tetap autentik. Yang lebih penting adalah perubahan di lapangan—ruang ibadah dan ruang hiburan kini dapat berdiri berdampingan tanpa saling meniadakan.
Bagi generasi muda yang menjalani keseharian seperti itu, keberagamaan tidak selalu berarti menjauh dari dunia modern. Justru sebaliknya, agama menjadi sesuatu yang mereka bawa ke dalam dunia tersebut—hidup, lentur, dan hadir dalam keseharian mereka.



