Gen Z hidup di tengah banjir informasi dan pengaruh budaya global yang kerap mendorong nilai-nilai individualis dan konsumerisme, membuat mereka menjauh dari nilai-nilai lokal dan moralitas sebagai identitas asli. Pendidikan karakter di sekolah atau kampus cenderung terlalu teoretis dan kaku, sementara cerita rakyat sering dipandang sekadar dongeng tanpa relevansi dengan kehidupan era digital.
Sebuah riset tahun 2026 menganalisis cerita rakyat lokal kuno sebagai potensi jawaban atas krisis karakter anak muda kontemporer. Ketika dianalisis dengan perspektif modern, cerita rakyat seperti Si Sarip Tambak Oso merupakan budaya pop masa lalu yang mengandung kode-kode moral dan ajaran Islam yang mendalam. Tokoh Sarip bukan hanya jagoan yang sakti, melainkan representasi sintesis antara budaya lokal dan nilai-nilai agama.
Koneksi antara cerita Si Sarip Tambak Oso dan Gen Z terletak pada transfer nilai moral dan penanaman nasionalisme, seperti keberanian berbicara untuk hal yang benar dan tidak takut menentang ketidakadilan sosial melalui media digital. Cerita rakyat dapat membantu Gen Z mengurangi sifat individualis dan hedonis dengan meningkatkan empati melalui keaktifan di gerakan sosial, crowdfunding, dan dukungan kepada teman yang membutuhkan.
Muhammad Fahmi, dosen program studi pendidikan agama Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Jawa Timur, mengatakan bahwa masih terbatas analisis mendalam tentang cerita rakyat berbasis fakta dan sejarah. Menggali warisan budaya ini lebih jauh diperlukan agar dapat menjadi pedoman bagi generasi sekarang yang tetap modern dan menguasai teknologi namun memiliki akar budaya kuat dan nilai moral-spiritual yang kokoh.



