Pak Har, seorang pekerja dari kelurahan, telah mengaduk semen selama dua hari di kampung. Ia mengatakan bahwa air di sumur lokal tidak pernah surut, bahkan selama musim kemarau delapan bulan, dan pihak kelurahan mengatakan hal itu berbahaya.
Para warga berkumpul di sekitar sumur. Bu Sum, seorang perempuan tua dengan suara yang masih tajam, mengatakan kepada tetangganya bahwa mereka beruntung ada seseorang yang melihat peristiwa pada saat itu, yaitu seorang pria bernama Rojak yang dianggap aneh oleh masyarakat.
Puluhan tahun sebelumnya, ketika penulis berusia sembilan tahun, sumur itu adalah tempat bermain dan mandi yang disukai anak-anak kampung. Penulis sedang bermain layang-layang dengan temannya Sohib ketika adiknya yang berusia dua tahun jatuh ke sumur. Mat Rojak, yang kebetulan berada di dekat sumur, dengan cepat menyelamatkan adik penulis dari air.
Keluarga penulis tidak pernah membicarakan peristiwa itu setelahnya. Ibunya hanya mengatakan kepada penulis untuk membantu ayahnya di tambak keesokan harinya, tanpa menjelaskan lebih lanjut. Ayahnya makan malam dalam diam, satu-satunya malam yang penulis ingat ketika ayahnya tidak memberikan komentar tentang makanan di meja.
Peristiwa itu meninggalkan kesan mendalam pada penulis, yang tetap mengingat setiap detail dari hari tersebut. Adiknya selamat, tetapi kejadian itu tidak pernah menjadi pembicaraan keluarga, hanya diam yang panjang yang tidak dipaksakan oleh siapa pun.



