Banyak merek kini menggunakan konten humor dan meme sebagai strategi pemasaran, mengubah cara mereka berkomunikasi dengan audiens di media sosial. Strategi ini muncul karena merek menyadari bahwa membeli perhatian melalui iklan tradisional tidak lagi cukup di tengah derasnya arus konten digital.
Konten meme menjadi viral karena menggerakkan emosi berintensitas tinggi, seperti rasa kagum atau tawa, yang mendorong orang untuk membagikannya. Ketika merek berani menertawakan diri sendiri atau berinteraksi seperti teman, citra mereka berubah dari perusahaan yang kaku menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Karena meme tidak terasa seperti iklan, konsumen cenderung berinteraksi secara sukarela.
Namun, tidak semua meme berhasil. Penerimaan terhadap konten komedi bergantung pada banyak faktor seperti selera, usia, dan pendidikan. Kesalahan umum termasuk menggunakan meme yang sudah usang, kebablasan menyinggung sensitivitas, memaksakan produk ke dalam lelucon yang tidak relevan, atau mengadopsi gaya yang tidak sesuai identitas merek.
Pelajarannya bukan bahwa semua merek harus membuat meme, melainkan memahami budaya yang ingin mereka ikuti. Pemasaran berbasis meme hanya berhasil jika terasa autentik terhadap momen yang sedang terjadi dan identitas merek itu sendiri. Merek yang berhasil adalah mereka yang mampu memahami budaya dan menjadi bagian darinya.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran dalam cara merek bersaing. Jangkauan masih bisa dibeli, tetapi perhatian harus diperoleh melalui relevansi budaya. Jika sebuah merek dapat menyatu dalam percakapan digital dengan konten menarik, mereka dapat menjangkau audiens yang lebih luas bahkan dengan biaya lebih rendah. Inilah yang dikenal sebagai ekonomi perhatian, di mana perhatian manusia menjadi sumber daya paling langka.

