Sebuah kereta eksperimental buatan China berhasil memecahkan rekor dunia baru dalam akselerasi jarak pendek. Kereta ini mencapai kecepatan 800 kilometer per jam dari posisi diam hanya dalam waktu 5,3 detik, sebuah kecepatan yang hampir menyamai kecepatan jelajah pesawat komersial.
Uji coba ini dilakukan di lintasan tes sepanjang satu kilometer di Laboratorium Kereta Api Cepat East Lake, Provinsi Hubei, China, menurut IFL Science pada Kamis (13 Agustus). Ini adalah kali ketiga laboratorium East Lake berhasil memecahkan rekor dunia di lintasan uji tersebut. Pihak laboratorium sebelumnya menyatakan ambisi mengembangkan kereta levitasi magnetik yang mampu melaju hingga 1.000 kilometer per jam.
Sistem kereta supercepat ini memanfaatkan pengambangan magnetik untuk melayang di atas rel secara mulus, sehingga menghilangkan gesekan mekanis dan memungkinkan perjalanan yang lebih lancar dan cepat. Lintasan keretanya dilapisi elektromagnet yang kutub magnetnya dapat berganti sesuai arus listrik. Kombinasi gaya tarik dari depan dan dorong dari belakang menggerakkan kereta secara terus menerus seperti gelombang, dengan laju yang dapat dikendalikan melalui pengaturan kecepatan perubahan kutub elektromagnetik.
Para pakar dari China membuktikan bahwa kereta ini tidak hanya mencapai kecepatan ekstrem, tetapi juga dapat dihentikan secara terkendali menggunakan sistem pengeremannya. Setelah melesat hingga 800 kilometer per jam, kereta dapat berhenti secara halus dan bertahap dalam jarak sekitar 200 meter. Para peneliti di Universitas Teknologi Pertahanan Nasional China juga sedang menguji kereta maglev berkecepatan super tinggi lainnya, dengan salah satu uji coba mencatat akselerasi hingga 697 kilometer per jam hanya dalam dua detik.
Meski teknologi tersebut belum ditujukan untuk mengangkut penumpang saat ini, para peneliti berharap prinsip dasarnya dapat diterapkan pada sistem peluncuran roket dan pesawat tempur. China juga mengembangkan teknologi maglev berkecepatan super tinggi serupa untuk dioperasikan di dalam tabung bertekanan rendah atau ruang hampa udara, namun pengembangan ini masih menghadapi berbagai tantangan besar termasuk tingginya biaya infrastruktur, faktor keselamatan penumpang, dan pembangunan jalur rel bertingkat presisi tinggi untuk jarak jauh.



