Kampung Melayu yang Lenyap dalam Modernisasi Singapura

Zainin, seorang pekerja di pusat perbelanjaan Singapura, masih mengingat kampung Melayu tempat ia dibesarkan sebelum pemerintah membangun negeri yang kini dipenuhi gedung pencakar langit dan robot otomatis.

By Sama News Agency
August 18, 2026
A large observation wheel stands prominently in the foreground with modern skyscrapers, highways, and urban infrastructure visible in the background under a partly cloudy blue sky.
Singapura modern dengan Roda Observation Deck yang terkenal sebagai simbol perkembangan urban negara-kota tersebut, menampilkan kontras antara atraksi wisata canggih dan infrastruktur metropolitan yang mendominasi lanskap kota. (Katadata)
1 min read
Text size

Di Terminal 2 Bandara Internasional Changi Singapura, robot pembersih berwarna jingga bergerak di antara penumpang yang baru tiba, melaksanakan tugas kebersihan yang dulu dikerjakan petugas manusia. Seorang petugas bandara bernama Kitrina mengatakan robot-robot tersebut telah menjadi bagian dari operasi harian bandara selama lebih dari tiga tahun.

Tiga hari setelahnya, di sebuah rumah makan di pusat perbelanjaan Great World di pusat kota Singapura, Zainin bekerja melayani pelanggan dengan seragam hitam sederhana. Pria berusia 56 tahun yang berbakat Melayu itu menjalani hidupnya di kota modern yang terus berkembang.

Ketika ditanya tentang Singapura di masa kecilnya, Zainin mendeskripsikan kehidupan di rumah kampung tradisional dari kayu dengan lingkungan sekitar berupa rawa dan semak belukar. Ia mengingat banyak ular dan nyamuk, tetapi juga suara burung yang kini jarang terdengar di tengah suara mesin kereta bawah tanah dan lalu lintas kendaraan modern.

Masa kecil Zainin berubah ketika ia berusia sekitar sepuluh tahun, saat pemerintah mulai membangun Singapura baru dengan meruntuhkan kampung-kampung Melayu yang telah berdiri puluhan tahun dan memindahkan warganya ke blok-blok rumah susun. Zainin masih ingat hari rumahnya diratakan dan keluarganya pindah ke flat yang disediakan pemerintah. Meski perpindahan itu memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi keluarganya, Zainin mengatakan yang hilang adalah kampung tempat ia dibesarkan.

Zainin menyatakan jika seseorang ingin melihat suasana kampung, mereka dapat mengunjungi Batam, sebuah kota yang terletak sekitar 20 kilometer ke arah tenggara Singapura di wilayah administrasi Indonesia. Kini hanya satu kampung yang tersisa di Singapura, sementara kota terus berkembang dengan robot yang bekerja di bandara, kereta yang melaju di bawah tanah, dan gedung-gedung tinggi yang memenuhi ruang yang dulu menjadi rumah komunitas Melayu.

Kampung Melayu yang Lenyap dalam Modernisasi Singapura | Sama News Agency