Indonesia telah mengembangkan Aksara Nusantara, sebuah sistem tulisan nasional baru yang dirancang untuk menyatukan identitas visual dan budaya bangsa. Sistem ini menggabungkan berbagai aksara tradisional dari berbagai wilayah di Nusantara sebagai landasan pengembangan.
Proyek ini dimulai ketika Menteri Kebudayaan memberikan arahan kepada Keraton Majapahit Jakarta pada 11 Januari 2025 untuk melestarikan dan mengembangkan seni, musik, dan sistem tulisan asli. Pada 6 Mei 2025, Pangeran Cevi Yusuf Isnendar diangkat sebagai Raja Warisan Budaya di Banjar, Kalimantan Selatan dengan gelar Sultan Yusuf Al-Banjari, dan dibawah kepemimpinannya dibentuk tim khusus untuk merumuskan sistem tulisan baru.
Tim kolaboratif yang melibatkan Keraton Majapahit Jakarta, ahli aksara dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Diponegoro, dan UIN Alauddin, serta pegiat aksara dan pemangku adat, melakukan uji coba keterbacaan dan kemudahan menulis pada Juni 2025. Uji coba ini melibatkan 20 guru dan pegiat aksara.
Aksara Nusantara dirancang menggunakan pendekatan ilmiah dengan tiga pilar metode utama: filologi untuk menggali beragam manuskrip dan karakteristik aksara kuno dari berbagai wilayah Indonesia sambil mempertahankan elemen estetika dan nilai historis lokal, linguistik untuk memastikan konsistensi fonetik dan kemudahan pembelajaran, serta abugida, sistem karakter tradisional di mana setiap karakter dasar adalah konsonan dengan vokal bawaan berupa bunyi "/a/" yang dapat diubah dengan tanda baca khusus.
Sistem tulisan ini telah dirancang untuk penggunaan digital dan dapat digunakan pada komputer dan laptop. Namun, penerapan sistem ketik dan pembacaan teks untuk perangkat seluler pintar dan tablet masih dalam proses penyempurnaan. Pada 12 Agustus 2026, Menteri Kebudayaan menginstruksikan agar Aksara Nusantara segera disosialisasikan secara masif.



