Perajin batik di sebuah sentra produksi mengembangkan pewarna alami yang diolah dari limbah pertanian seperti kulit bawang dan sejumlah jenis daun.
Perajin menyebut hasil warna cenderung lebih lembut dibanding pewarna sintetis, dengan variasi rona yang dipengaruhi lama perendaman.
Pengembangan tersebut dilakukan bersama peneliti kampus yang membantu pengujian ketahanan warna terhadap pencucian.
Sentra produksi berencana memasarkan lini khusus berbahan pewarna alami mulai musim berikutnya.