Pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan operasi udara untuk rekayasa hujan buatan di enam provinsi yang mengalami kondisi kritis kebakaran hutan. Provinsi-provinsi tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Operasi rekayasa hujan ini terhambat oleh terbatasnya ketersediaan awan hujan, padahal mayoritas lahan di keenam provinsi tersebut adalah lahan gambut yang sangat mudah terbakar. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago mengatakan wilayah hutan yang terbakar telah mencapai 107.000 hektare hingga saat ini dan mengharapkan munculnya awan hujan dalam sepekan ke depan.
Pemerintah telah menyiapkan 43 helikopter dan hingga 15 pesawat untuk melakukan operasi udara. Teknologi modifikasi cuaca hanya mempercepat proses hujan dengan menaburkan garam pada awan hujan, namun tetap memerlukan keberadaan awan terlebih dahulu. Djamari mencatat awan hujan di keenam provinsi hanya akan muncul selama 3-4 hari hingga 18 Agustus 2026.
Pemerintah juga menyiapkan mitigasi melalui operasi darat, termasuk penggunaan flexible tank berisi air dan pembuatan sumur buatan di titik-titik rawan kebakaran. Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup akan menyebarkan edaran yang melarang pembakaran lahan sebagai metode pembukaan lahan, setelah sebelumnya dua pemerintah daerah mengizinkan pembakaran lahan maksimal 2 hektare untuk pembukaan lahan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto menyatakan awan hujan merupakan cara terbaik untuk mencegah dan menangani kebakaran hutan di keenam provinsi tersebut. Setiap helikopter hanya mampu menampung empat ton air, dan dengan tiga unit yang dikirimkan secara bersamaan, total air yang dapat dijatuhkan hanya 12 ton, yang hanya cukup untuk memadamkan api di area seluas 10 meter persegi pada lahan gambut. Suharyanto mengatakan seluruh armada pesawat kini dalam status siaga untuk memanfaatkan awan hujan dengan segera jika muncul sebelum 18 Agustus.



