Sejumlah film Indonesia dapat menjadi pilihan tontonan saat merayakan libur Hari Kemerdekaan, dengan fokus pada cerita perjuangan yang beragam. Perjuangan dalam film-film tersebut digambarkan dalam berbagai bentuk, mulai dari mempertahankan cinta tanah air, memperjuangkan akses pendidikan dan kesetaraan, hingga menghadapi ketidakadilan dan keterasingan dari tanah kelahiran.
"Tanah Surga... Katanya," sutradara Herwin Novianto, mengisahkan kisah Hasyim, mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia-Malaysia 1965, yang tetap bertahan di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan demi cinta tanah airnya meski menghadapi keterbatasan ekonomi dan minimnya pembangunan. Film berlabel SU tersedia di Vidio dan menampilkan karakter guru Astuti dan dokter Anwar yang berupaya melayani masyarakat setempat.
"Sokola Rimba," karya sutradara Riri Riza, terinspirasi dari pengalaman pendidik yang mengajarkan baca, tulis, dan berhitung kepada anak-anak Orang Rimba di Hutan Bukit Duabelas, Jambi. Film berlabel SU ini mengikuti usaha keras pendidik tersebut untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat lokal meskipun mendapat penolakan dari lingkungan kerja dan masyarakat setempat. Film ini tersedia di Netflix dan Prime Video.
"Kartini," sutradara Hanung Bramantyo, mengisahkan perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan, pendidikan, dan hak perempuan pada awal 1900-an. Film berlabel R13 menampilkan Kartini dan saudara-saudaranya mendirikan sekolah bagi masyarakat miskin dan menciptakan lapangan pekerjaan di Jepara. Kartini dapat ditonton di Vidio.
"Bumi Manusia," juga sutradara Hanung Bramantyo, berlatar Hindia Belanda awal abad ke-20 dan mengisahkan perjuangan melawan diskriminasi dan ketidakadilan dalam sistem kolonial melalui pendidikan, tulisan, dan keberanian bersuara. Film berlabel 17+ mengikuti perjalanan pemuda pribumi yang berpendidikan dan usahanya melawan ketidakadilan kolonial. Film ini tersedia di Netflix.
"Budi Pekerti," sutradara Wregas Bhanuteja, mengisahkan perjuangan mempertahankan martabat, keluarga, dan pekerjaan di tengah penghakiman era digital. Film berlabel 13+ berfokus pada seorang guru yang menghadapi ancaman kehilangan pekerjaan setelah video pertengkarannya viral dan keluarganya berusaha memberikan dukungan. Film tersedia di Netflix.
"Eksil," dokumenter sutradara Lola Amaria, mengungkap kisah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri dengan beasiswa pemerintah Presiden Soekarno pada 1965. Film berlabel 13+ menggambarkan bagaimana peristiwa politik tahun tersebut mencegah mereka kembali ke Indonesia, menyebabkan mereka tersebar di berbagai negara seperti China, Uni Soviet, Belanda, Cekoslowakia, Jerman, dan Swedia, beberapa di antaranya kehilangan kewarganegaraan. Film ini sebelumnya ditayangkan melalui pemutaran terbatas di sejumlah bioskop Indonesia.


