Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago mengatakan bahwa fenomena El Niño yang sedang melanda dunia mempercepat proses kebakaran hutan dan lahan yang terjadi beberapa waktu terakhir. El Niño berkategori kuat mulai berlaku dan diperkirakan berlangsung hingga awal Oktober, dengan kondisi ini akan mempercepat perambatan api.
"Keadaan ini akan sangat mempercepat proses penanganan kebakaran hutan kita yang terjadi saat ini," kata Djamari dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin. Berdasarkan catatan pemerintah, lebih dari 107 ribu hektare terdampak kebakaran hutan dan lahan di Indonesia hingga awal Agustus.
Pemerintah mengerahkan berbagai upaya untuk menangani masalah ini melalui operasi udara maupun darat. Untuk operasi udara, pemerintah mengerahkan sekitar 43 helikopter, serta 10 hingga 15 pesawat fixed-wing yang dapat dikerahkan sesuai kebutuhan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi fenomena El Niño berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa kekuatan El Niño saat ini telah melebihi ambang batas kategori kuat, dengan indeks Niño 3.4 mencapai lebih dari 1,56°C. BMKG memprediksi puncak El Niño akan terjadi pada Desember 2026 atau Januari 2027, dan terdapat peluang signifikan kondisi El Niño tahun ini dapat melebihi kategori El Niño kuat.
Di Samudra Hindia, indeks menunjukkan nilai negatif sebesar -0,38, mengindikasikan peluang cukup signifikan untuk terjadinya fenomena Indian Ocean Dipole yang biasanya satu paket dengan El Niño. Sejumlah wilayah Indonesia juga akan memasuki periode puncak musim kemarau pada Agustus mendatang.



