Konsep teleportasi yang dipopulerkan dalam fiksi ilmiah kini bukan lagi sekadar khayalan belaka. Para ilmuwan telah mendemonstrasikan bahwa teleportasi dapat dilakukan dengan menggunakan prinsip dan teknologi kuantum.
Penelitian tentang cara mentransfer keadaan kuantum dari satu partikel ke partikel lain yang berjauhan, tanpa ada interaksi fisik antara keduanya, telah berlangsung selama lebih dari 30 tahun. Keadaan kuantum merupakan konsep matematis yang merepresentasikan informasi mengenai atom atau partikel subatomik, seperti tingkat energi elektron atau polarisasi foton.
Eksperimen terus dilakukan hingga akhir 1990-an ketika ilmuwan menemukan bahwa keadaan kuantum dapat ditransmisikan dalam jarak pendek. Pada 2017, teleportasi kuantum berhasil dilakukan dalam jarak yang jauh, termasuk ke dan dari orbit rendah Bumi, dengan memanfaatkan quantum entanglement atau keterikatan kuantum. Keterikatan kuantum menjelaskan fenomena alam di mana partikel-partikel dapat saling terhubung melintasi jarak yang tidak terbatas.
Prosedur teleportasi keadaan kuantum pertama kali dipaparkan dalam makalah yang diterbitkan pada 1993, diikuti oleh serangkaian demonstrasi eksperimental. Memasuki 2010-an, ilmuwan menemukan cara melakukan teleportasi berbagai jenis keadaan kuantum, termasuk pada sirkuit superkonduktor. Para peneliti juga membuktikan bahwa keadaan kuantum dapat ditransportasikan antar-kota, serta dari Bumi ke luar angkasa dan kembali.
Namun, teleportasi kuantum berbeda dengan konsep teleportasi dalam serial fiksi ilmiah seperti Star Trek. Tim Strobel, mahasiswa doktoral yang mendalami komunikasi kuantum, mengatakan bahwa "sulit untuk membandingkannya dengan Star Trek" karena "yang dilakukan adalah teleportasi keadaan kuantum, bukan materi atau energi." Daniel Oblak, ilmuwan informasi kuantum dari University of Calgary, menjelaskan bahwa jika ingin meneleportasi manusia, semua informasi kuantum mengenai atom dan partikel penyusun tubuh harus ditransfer, sebuah skenario yang dirasa sangat mustahil terwujud. Jason Orcutt, ilmuwan peneliti utama di IBM Quantum, menyatakan bahwa "pertanyaan mengenai apakah manusia bisa diteleportasi masih sepenuhnya berada dalam ranah fiksi ilmiah."


