Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 241 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu. Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari merinci 154 unit mengalami kerusakan berat, 49 unit kerusakan sedang, dan 38 unit kerusakan ringan.
Abdul mengatakan data tersebut masih bersifat dinamis dan akan terus berkembang. Ia menjelaskan BNPB akan mempercepat penghitungan, verifikasi, dan validasi data agar proses administrasi untuk memberikan dukungan perbaikan rumah rusak dari pemerintah dapat segera dilaksanakan.
BNPB meminta warga di wilayah terdampak mengecek kondisi rumah dan memerhatikan kemungkinan kerusakan struktur, termasuk tiang yang retak, sudut rumah yang lepas, dan dudukan atap yang bergeser. Warga diminta melaporkan kondisi rumah pascagempa tersebut kepada aparat RT, RW, aparat desa, atau kantor BPBD setempat.
Berdasarkan laporan dari PLN, sejumlah wilayah yang mengalami pemadaman listrik pada hari pertama gempa sudah mulai kembali mendapatkan aliran listrik. BNPB mengimbau wilayah yang masih mengalami pemadaman untuk melaporkan melalui call center BNPB 117.
Hingga Minggu sore, total korban meninggal dunia berjumlah 53 jiwa, tersebar di beberapa kabupaten termasuk Manggarai Timur (20 jiwa), Manggarai (25 jiwa), Sikka (4 jiwa), Ende (2 jiwa), Manggarai Barat (1 jiwa), dan Nagekeo (1 jiwa). BNPB juga mencatat 135 orang dengan luka-luka sedang dirawat di fasilitas kesehatan terdekat.



