Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah saat ini mempercepat pengelolaan sampah nasional dengan menggunakan teknologi pirolisis. Teknologi tersebut mampu mengolah sampah menjadi bahan bakar terbarukan sambil melengkapi pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Menurut Zulkifli, persoalan sampah tidak lagi dapat ditangani dengan cara konvensional dan memerlukan percepatan melalui intervensi teknologi. Pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi pirolisis untuk meningkatkan jumlah sampah yang dapat diolah menjadi energi, selain pembangunan PSEL.
Teknologi pirolisis memiliki potensi besar karena mampu mengolah sampah yang menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir menjadi bahan bakar terbarukan setara solar, menurut Zulkifli. Jika diterapkan secara luas, teknologi ini ditargetkan dapat menangani sekitar 20 persen persoalan sampah nasional.
Sejumlah instansi dan pemerintah daerah turut terlibat dalam penerapan teknologi ini, termasuk kolaborasi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dengan pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut mendukung percepatan Proyek Strategis Nasional PSEL Bogor Raya 1 serta pengembangan proyek percontohan pirolisis di lima lokasi: Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Semarang, Kota Bekasi, dan DKI Jakarta.
Pemerintah akan memiliki 13 lokasi PSEL dalam waktu dekat sebagai implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Zulkifli mengatakan kapasitas tersebut baru mampu menangani sekitar 22 persen timbunan sampah nasional, sehingga dibutuhkan teknologi pelengkap seperti pirolisis. Keberhasilan program memerlukan komitmen kuat pemerintah daerah, terutama dalam penyediaan lahan, percepatan perizinan, dan penjaminan pasokan sampah yang memadai.



