Anak-anak bermain di sebuah lapangan di kawasan Baros, Kota Cimahi, Jawa Barat, yang terletak tidak jauh dari jalur rel kereta api. Bagi warga setempat, lapangan tersebut memiliki fungsi ganda sebagai ruang bermain sekaligus tempat menyimpan air.
Air hujan yang turun selama musim hujan sebagian diarahkan menuju saluran yang menuju ke titik-titik resapan di bawah lapangan. Warga merencanakan saluran tersebut dengan cermat sehingga proses penyimpanan air nyaris tidak terlihat dari permukaan.
Di bawah tanah, air hujan disimpan dalam sebuah tandon berkapasitas sekitar 1.000 liter. Dengan menggunakan sistem gravitasi, warga dapat mengambil air tanpa memerlukan pompa ketika membutuhkannya.
Cara tersebut merupakan hasil dari pengalaman warga menghadapi kekeringan yang berulang setiap musim kemarau. Lapangan kini menjadi pengingat bahwa air yang turun saat musim hujan dapat disimpan untuk menghadapi hari-hari kering.
