Ketakutan Bahan Kimia Mempengaruhi Pilihan Konsumen Meski Produk "Bebas Kimia" Mustahil Ada

Ketakutan terhadap bahan kimia sintetis mendorong konsumen memilih produk berlabel "bebas kimia", padahal secara ilmiah semua benda termasuk air dan oksigen terdiri dari senyawa kimia.

Oleh Sama News Agency
30 Agustus 2026
Infografis berwarna biru dan putih tentang singkong menampilkan informasi tentang racun alami hydrogen sianida (HCN) pada singkong, jenis-jenis singkong berdasarkan kadar sianida, dan ilustrasi umbi singkong.
Infografis dari Badan POM Kabupaten Kepulauan Tanimbar menjelaskan bahwa singkong mengandung racun alami berupa hydrogen sianida (HCN), yang dikenali sebagai racun asam biru. Infografis ini membedakan antara singkong manis (kadar sianida <40 ppm) untuk konsumsi sehari-hari dan singkong pahit (kadar sianida >50 ppm) untuk bahan baku industri. (The Conversation Indonesia)
1 menit membaca
Ukuran teks

Saat berbelanja, konsumen sering memilih produk berlabel "Natural" atau "Tanpa Bahan Kimia" tanpa membandingkan komposisi dengan alternatif lain, meski label semacam itu sebenarnya ilmiah tidak benar. Air yang diminum, oksigen yang dihirup, nasi, garam, vitamin C, daging, dan tubuh manusia semuanya terdiri atas berbagai senyawa kimia.

Fenomena ini terkait dengan kemofobia, yaitu persepsi negatif terhadap bahan kimia yang muncul dari interaksi kompleks antara cara otak menilai risiko, pengalaman hidup, bahasa media, strategi pemasaran, dan algoritma media sosial. Penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan literasi kimia saja tidak cukup untuk mengubah persepsi ini, karena orang dengan pendidikan sama dapat memiliki pandangan sangat berbeda terhadap bahan kimia.

Otak manusia cenderung menggunakan jalan pintas mental atau heuristik untuk membuat keputusan dengan cepat, meski hal ini dapat menghasilkan penilaian yang keliru. Salah satu contohnya adalah kecenderungan menganggap bahan alami selalu lebih aman daripada sintetis, padahal racun seperti arsenik, sianida dalam singkong dan rebung, serta aflatoksin dalam kacang-kacangan mudah ditemukan dalam bahan alami.

Otak juga lebih mudah bereaksi terhadap rasa takut daripada penjelasan statistik, mengabaikan pertanyaan penting seperti dosis, paparan, dan tingkat risiko. Dalam toksikologi, prinsip klasik menyatakan bahwa dosis menentukan apakah suatu zat menjadi racun; bahkan air dapat membahayakan jika dikonsumsi berlebihan dalam waktu singkat, sedangkan banyak bahan tambahan pangan aman karena kadarnya ditetapkan berdasarkan kajian ilmiah ketat.

Penelitian kemofobia mengajarkan bahwa ketakutan terhadap bahan kimia bukan tanda ketidakrasionalan, melainkan hasil dari faktor psikologi, sosial, dan komunikasi yang membuat masyarakat lebih mudah mempercayai informasi yang membangkitkan rasa takut daripada penjelasan ilmiah. Komunikasi sains perlu dikembangkan lebih baik untuk menyeimbangkan konten sensasional di media sosial, dan kecerdasan buatan berpotensi membantu menerjemahkan istilah teknis ke bahasa yang lebih mudah dipahami.

Ketakutan Bahan Kimia Mempengaruhi Pilihan Konsumen Meski Produk "Bebas Kimia" Mustahil Ada | Sama News Agency