Kesadaran Mitigasi Warga Sikka Kurangi Kerusakan Rumah Saat Gempa

Analisis visual atas foto dari media sosial menunjukkan rumah di Sikka mengalami kerusakan lebih rendah saat gempa bermagnitudo 7,7 dibanding daerah lain, diduga berkat praktik konstruksi dengan balok pengikat tambahan yang umum diterapkan warga.

Oleh Sama News Agency
31 Agustus 2026
Dua foto rumah bata dengan kerusakan struktural yang menunjukkan dinding retak dan sebagian rubuh, serta interior rumah dengan perkakas rumah tangga yang tersebar.
Rumah-rumah di Sikka mengalami kerusakan akibat gempa 7,7 magnitudo, namun struktur dengan balok pengikat tambahan terbukti lebih tahan guncangan, memperkecil tingkat kerusakan dibanding daerah lain. (The Conversation Indonesia)
1 menit membaca
Ukuran teks

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu 15 Agustus 2026, menyebabkan sedikitnya 78 kematian dan merusak 41.392 rumah, dengan 59,6 persen di antaranya mengalami kerusakan sedang hingga berat. Gempa juga merusak 1.387 fasilitas pendidikan dan 244 fasilitas kesehatan.

Kerusakan paling parah terjadi di Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Manggarai, Ngada, dan Ende. Namun di Sikka, meskipun 3.296 rumah rusak termasuk 943 rusak berat, angka ini jauh lebih rendah dibanding gempa Flores 1992 dengan magnitudo 7,8 yang merusak berat atau meruntuhkan sekitar 15 ribu rumah di kabupaten yang sama.

Analisis visual terhadap ratusan foto dari media sosial mengungkapkan pola kerusakan berbeda antarkabupaten. Rumah di Sikka yang menggunakan rangka beton bertulang dengan balok pengikat tambahan—tidak hanya di bagian atas dan bawah dinding tetapi juga di bagian tengah—cenderung bertahan lebih kokoh, bahkan ada yang tidak menunjukkan kerusakan berarti. Peneliti menyatakan balok pengikat tambahan ini kemungkinan menjadi salah satu faktor penentu ketahanan terhadap gempa.

Postingan pengguna media sosial menunjukkan masyarakat telah mengembangkan pengetahuan mitigasi gempa, meskipun masih terbatas. Warga tampak memahami bahwa dinding perlu dibatasi elemen rangka beton bertulang, perlunya pengikat untuk menghubungkan elemen berbeda, dan pentingnya menggunakan material berkualitas baik. Praktik ini diduga berkembang dari pembelajaran masyarakat menghadapi gempa-gempa sebelumnya.

Kesadaran Mitigasi Warga Sikka Kurangi Kerusakan Rumah Saat Gempa | Sama News Agency