Deep Water (2026) menjadi pertanyaan besar sejak penontonnya mulai menyelami cerita yang tidak berlatar di perairan sedalam judulnya. Film ini dirancang hanya untuk ditonton kemudian dilupakan begitu saja.
Film yang ditulis oleh Pete Bridges, Shayne Armstrong, S.P. Krause, dan Damien Power, berdasarkan cerita karya Armstrong dan Krause, menampilkan penulisan cerita yang mengecewakan. Meski para penulis mungkin bermaksud menggabungkan elemen Final Destination (2000) dan Deep Blue Sea (1999) yang juga disutradarai oleh Renny Harlin, cerita ini lebih menyerupai No Way Up (2024).
Kelemahan tersebut terlihat sejak kurang dari sepuluh menit film dimulai. Pengenalan karakter dan lingkungan, latar belakang masalah, serta percakapan antar tokoh terasa seperti bukan hasil karya empat orang penulis. Pengenalan karakter cenderung stereotipikal, percakapan dangkal dan tidak berkesan, sementara penyusunan konflik terlalu klise untuk film yang tayang pada 2026.
Penonton tidak perlu menebak-nebak konflik atau nasib karakter karena semuanya terpampang jelas dan mirip dengan cerita-cerita Hollywood sebelumnya. Harlin tampaknya sengaja mengambil referensi film-film lawas, mengingatkan pada gaya drama aksi Amerika seperti Top Gun: Maverick (2022), namun tidak memberikan improvisasi atau meminta revisi atas naskah yang ia terima.
Di sisi lain, Harlin berhasil memberikan beberapa ketegangan serupa dengan Deep Blue Sea (1999), dengan adegan-adegan yang menciptakan keseruan terutama saat ditampilkan di layar lebar. Angus Sampson juga sangat sukses memerankan antagonis yang egois, melebihi ekspektasi di antara berbagai kelemahan cerita.
Aaron Eckhart berusaha bertindak sebagai pahlawan, namun tampak bingung di tengah puing-puing cerita yang tidak logis. Naskah film ini juga terasa memaksa dalam menampilkan keterlibatan Amerika Serikat dan China, dengan resolusi cerita yang mencoba memberikan kompensasi atas kelemahan sejak awal.



