Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan gempa susulan yang dipicu Sesar Naik Flores masih akan berlangsung dalam dua hingga tiga minggu ke depan sebelum mereda secara alami. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara dua hingga tiga minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya.
BMKG mencatat 235 gempa susulan hingga Sabtu pukul 14.00 WIB setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur pada pagi hari. Gempa-gempa susulan tersebut terdistribusi di sebelah utara Pulau Flores dengan magnitudo berkisar antara 2,5 hingga 6,2. Grafik pemantauan BMKG menunjukkan tren gempa susulan saat ini belum mereda.
Gempa utama berpusat di kedalaman 15 kilometer dan merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust. Sesar tersebut memiliki rekam jejak gempa merusak yang panjang, termasuk gempa berkekuatan magnitudo 7,8 pada kedalaman 28 kilometer yang mengguncang wilayah tersebut pada 1992. Pusat gempa yang lebih dangkal pada peristiwa kali ini menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat pada bangunan dan infrastruktur.
Gempa juga memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Jaringan pemantauan muka air laut mencatat tsunami tiba di Reo Manggarai dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak hingga 1,61 meter, sementara di Maurole, Ende, gelombang tercatat setinggi 0,94 meter. Di Bulukumba dan Sape, Bima, ketinggiannya melampaui 0,5 meter.
BMKG mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan menunjukkan kondisi muka laut kembali aman.



