Anak gajah sumatra betina bernama Yuna meninggal pada Selasa (11 Agustus) di Pusat Pelatihan Gajah Saree, Aceh, sehari sebelum Hari Gajah Sedunia diperingati. Yuna berusia di bawah tiga tahun ketika meninggal dunia.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh Ujang Wisnu Barata menjelaskan bahwa Yuna diduga mati akibat serangan elephant endotheliotropic herpesvirus (EEHV), jenis virus mematalan yang sangat rentan menyerang gajah berusia di bawah 14 tahun. Serangan virus dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah dan menyebabkan kebocoran darah dan cairan tubuh ke organ dalam, yang dapat memicu syok fatal dan kematian mendadak dalam kurun waktu 24-48 jam, dengan tingkat kematian mencapai 80 persen.
Pada pagi dan siang hari 11 Agustus, Yuna masih aktif beraktivitas seperti biasa. Namun pada pukul 16.00 WIB, pawang gajah menemukan Yuna dalam kondisi lemas dengan wajah, mata membengkak dan membengkak, serta lidah pucat membiru. Tim dokter hewan memberikan tindakan medis darurat berupa infus dan multivitamin, namun kondisi anak gajah tersebut kian menurun hingga meninggal pada pukul 20.48 WIB.
Kematian Yuna merupakan kematian kedua gajah sumatra bulan ini. Pekan sebelumnya, satu gajah sumatra jantan ditemukan mati di areal perkebunan sawit milik PT MPLI di Desa Kaloy, Aceh Tamiang. Gajah tersebut diduga mati akibat keracunan. Menurut pemeriksaan awal, gajah tersebut sudah mati sekitar tiga hari sebelum ditemukan pada Minggu (9 Agustus).
Ujang mengatakan bahwa untuk mendeteksi dini keberadaan virus, BKSDA Aceh akan memperketat pemantauan dan melakukan uji medis khususnya untuk gajah Gerry, Yuyun, dan Dilan. Hari Gajah Sedunia, yang diperingati setiap 12 Agustus sejak 2012, bertujuan meningkatkan kesadaran global mengenai konservasi gajah, yang digolongkan sebagai spesies sangat terancam punah akibat perburuan liar, hilangnya habitat, dan perdagangan ilegal.
