Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengharapkan Mesir dapat bergabung dengan pakta pertahanan yang dirancang mirip NATO dan melibatkan Turki, Arab Saudi, dan Pakistan. Fidan mengatakan kepada agensi berita Anadolu bahwa Mesir adalah "mitra alami dalam segala hal" dan telah bertindak seolah-olah sudah menjadi anggota aliansi tersebut.
Ketiga negara menandatangani perjanjian itu pada Jumat (7 Agustus) di Makkah, Arab Saudi. Perjanjian tersebut, juga dikenal sebagai Pakta Pertahanan Bersama Makkah atau Mecca Joint Defence Agreement, dirancang untuk menstabilkan kawasan yang terganggu oleh dampak perang regional.
Fidan mengatakan ada beberapa masalah teknis yang masih perlu diselesaikan sebelum Mesir bergabung, namun tidak ada alasan bagi negara itu untuk tidak menjadi bagian dari pakta tersebut. Dia juga menekankan bahwa Pakta Makkah tidak menargetkan negara tertentu dan tidak mencantumkan ancaman bersama secara tertulis.
Fidan menyebut perjanjian itu sebagai "langkah terpenting menuju terciptanya stabilitas jangka panjang di kawasan ini" dan mengisyaratkan aliansi dapat diperluas lebih jauh. "Berdasarkan visi presiden kami, kita tidak boleh hanya terbatas pada tiga negara. Kita harus berkembang dan, jika perlu, merangkul semua negara di bawah payung ini," ujarnya.
Kementerian Luar Negeri Pakistan pada Jumat menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu anggota aliansi akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Pakta tersebut dibuat di tengah situasi perang regional yang mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz dan Laut Merah serta melibatkan serangan dari kelompok Houthi di Yaman dan insiden drone terhadap aset Amerika Serikat.



