Krisis iklim tidak hanya mengubah lingkungan fisik, tetapi juga dapat memperburuk kesepian dengan membatasi kesempatan interaksi sosial dan merusak tempat berkumpul masyarakat. Badai, gelombang panas, banjir, dan kebakaran hutan dapat membatalkan festival, menghentikan kegiatan komunitas, dan mendorong warga memilih tinggal di rumah.
Fiona Doherty, asisten profesor bidang pekerjaan sosial di University of Tennessee, mengatakan hubungan sosial merupakan komponen penting dari kesejahteraan individu dan masyarakat. Dalam tulisannya, Doherty menyatakan bahwa salah satu dampak perubahan iklim yang paling sering terabaikan kemungkinan adalah potensinya untuk memperburuk epidemi kesepian.
Interaksi dengan orang lain membantu menjaga otak tetap aktif, menurunkan stres, dan dapat menyelamatkan nyawa ketika bencana terjadi, menurut Doherty. Misalnya, saat suhu melonjak, teman dan tetangga dapat membagikan peringatan, memeriksa kondisi lansia, dan membantu menyiapkan tempat perlindungan berpendingin udara. Namun cuaca ekstrem yang semakin sering malah melemahkan jaringan sosial tersebut.
Panas ekstrem membuat warga menghindari aktivitas luar ruangan dan lebih memilih berada di dekat pendingin udara atau kipas, kata Doherty. Badai dan banjir dapat membuat perjalanan berbahaya atau tidak mungkin dilakukan, sehingga warga kesulitan menemui keluarga atau menghadiri pertemuan sosial. Cuaca ekstrem juga dapat menyebabkan pemadaman listrik serta mengganggu internet dan jaringan seluler, memutus komunikasi melalui telepon, pesan singkat, dan media sosial ketika informasi justru sangat dibutuhkan.
Krisis iklim juga dapat mengubah atau merusak tempat yang memiliki makna budaya dan sosial. Banjir dapat merusak ruang terbuka yang biasa digunakan warga untuk berenang, piknik, dan berkumpul. Doherty merujuk pada pengalaman pribadinya ketika sebuah danau kecil di kota kelahirannya di New York rusak karena badai, sehingga komunitas pedesaan kehilangan salah satu dari sedikit tempat berkumpul yang dimilikinya.
Dampak sosial ini paling berat dirasakan kelompok yang sebelumnya sudah terisolasi, seperti lansia, warga pedesaan, dan orang yang tidak memiliki akses transportasi dan internet yang memadai, menurut Doherty. Untuk menjaga hubungan sosial di tengat cuaca ekstrem, ia menyarankan pemerintah berinvestasi pada pusat komunitas, seperti perpustakaan umum, yang dapat berfungsi sebagai tempat berkumpul sekaligus pusat ketahanan iklim dengan menyediakan ruang belajar, lokasi berlindung dari panas, sambungan internet, dan fasilitas pengisian daya saat listrik padam.
