Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat memenuhi seluruh persyaratan yang diajukan Teheran. Dalam pernyataannya yang dikutip AFP pada hari Minggu, IRGC mengatakan bahwa Selat Hormuz kini merupakan medan perang bagi Iran dan bukan sekadar jalur perairan.
Salah satu syarat utama yang diajukan Iran adalah AS memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang. Iran juga menuntut pengakhiran perang dan agresi terhadap Iran serta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak. Tuntutan tambahan mencakup penghentian blokade tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pencabutan sanksi, pembebasan aset Iran yang dibekukan, dan permohonan untuk mengenakan biaya bagi kapal yang melintas jalur yang ditetapkan Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai lalu lintas dan pengelolaan Selat Hormuz mendekati tahap akhir. Araghchi membantah Iran sedang melakukan negosiasi dengan AS, mengatakan kedua negara hanya saling bertukar pesan melalui perantara. Ia menambahkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada persyaratan lain dan kompensasi atas pelanggaran terhadap kesepakatan Juni.
Oman pada Sabtu mengecam adanya serangan berulang terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa menyebut Iran secara langsung. Kementerian Luar Negeri Oman mengatakan negosiasi mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz berjalan dalam suasana positif dan konstruktif, serta mendesak semua pihak menghindari tindakan yang dapat membahayakan kemajuan pembicaraan.
Iran telah memberlakukan blokade efektif di Selat Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari lalu. Serangkaian serangan yang terus terjadi di jalur laut tersebut menyebabkan gencatan senjata AS-Iran pada April lalu runtuh. Para mediator kemudian mendesak AS dan Iran untuk kembali pada ketentuan dalam nota kesepahaman yang dicapai pada Juni, yang menjadi landasan bagi pembicaraan perdamaian.



